SELAMAT DATANG DI KAWASAN JARUM SUNTIK
Tampilkan postingan dengan label Asuhan Keperawatan Komunitas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asuhan Keperawatan Komunitas. Tampilkan semua postingan

Menopause

 
Kata menopause berasal dari dua kata Yunani yang berarti "bulan” dan “penghentian sementara” yang secara linguistik lebih tepat disebut “menocease”.  Secara medis istilah menopause mengandung arti berhentinya masa menstruasi, bukan istirahat.
 
Meski kata menopause hanya mengandung arti akhir masa menstruasi, walaupun demikian dalam penggunaan secara umum menopause mempunyai makna masa transisi atau masa peralihan, dari beberapa tahun sebelum menstruasi terakhir sampai setahun sesudahnya. Hal itu disebabkan karena keluaran hormon dari ovarium (indung telur) berkurang, masa haid menjadi tidak teratur dan kemudian lenyap sama sekali. Dengan lenyapnya haid ini maka wanita sudah memasuki suatu masa peralihan yaitu masa menopause.
Menopause merupakan suatu tahap dimana wanita tidak lagi mendapatkan siklus menstruasi yang menunjukkan berakhirnya kemampuan wanita untuk bereproduksi. Secara normal wanita akan mengalami menopause antara usia 40 tahun sampai 50 tahun. Pada saat menopause, wanita akan mengalami perubahan-perubahan di dalam organ tubuhnya yang disebabkan oleh bertambahnya usia. Usia dari hari ke hari akan terus berjalan dan setiap orang seiring dengan bertambahnya usia tidak akan lepas dari predikat tua. Dengan bertambahnya usia maka gerak-gerik, tingkah laku, cara berpakaian dan bentuk tubuh mengalami suatu perubahan.  
Secara singkat dapat dikatakan bahwa menopause merupakan suatu proses peralihan dari masa produktif menuju perubahan secara perlahan-lahan ke masa non produktif yang disebabkan oleh berkurangnya hormon estrogen dan progesteron seiring dengan bertambahnya usia. Sehubungan dengan terjadinya menopause pada lansia maka biasanya hal itu diikuti dengan berbagai gejolak atau perubahan yang meliputi aspek fisik maupun psikologis yang dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan si lansia tersebut. 
 
Fisik
 
Ketika seseorang memasuki masa menopause, fisik mengalami ketidaknyamanan seperti rasa kaku dan linu yang dapat terjadi secara tiba-tiba di sekujur tubuh, misalnya pada kepala, leher dan dada bagian atas. Kadang-kadang rasa kaku ini dapat diikuti dengan rasa panas atau dingin, pening, kelelahan, jengkel, resah, cepat marah, dan berdebar-debar (Hurlock, 1992). Beberapa keluhan fisik  yang merupakan tanda dan gejala dari menopause yaitu:

a.
Ketidakteraturan Siklus Haid 
 
 
Tanda paling umum adalah fluktuasi dalam siklus haid, kadang kala haid muncul tepat waktu, tetapi tidak pada siklus berikutnya. Ketidakteraturan ini sering disertai dengan jumlah darah yang sangat banyak, tidak seperti volume pendarahan haid yang normal. Keadaan ini sering mengesalkan wanita karena ia harus beberapa kali mengganti pembalut yang dipakainya. Normalnya haid akan berakhir setelah tiga sampai empat hari, namun pada keadaan ini haid baru dapat berakhir setelah satu minggu atau lebih.

b.
Gejolak Rasa Panas
 
 
Arus panas biasanya timbul pada saat darah haid mulai berkurang dan berlangsung sampai haid benar-benar berhenti. Sheldon H.C (dalam Rosetta Reitz, 1979) mengatakan “ kira-kira 60% wanita mengalami arus panas”. Arus panas ini disertai oleh rasa menggelitik disekitar jari-jari, kaki maupun tangan serta pada kepala, atau bahkan timbul secara menyeluruh. Munculnya hot flashes ini sering diawali pada daerah dada, leher atau wajah dan menjalar ke beberapa daerah tubuh yang lain. Hal ini berlangsung selama dua sampai tiga menit yang disertai pula oleh keringat yang banyak. Ketika terjadi pada malam hari, keringat ini dapat menggangu tidur dan bila hal ini sering terjadi akan menimbulkan rasa letih yang serius bahkan menjadi depresi.

c.
Kekeringan Vagina
 
 
Kekeringan vagina terjadi karena leher rahim sedikit sekali mensekresikan lendir. Penyebabnya adalah kekurangan estrogen yang menyebabkan liang vagina menjadi lebih tipis, lebih kering dan kurang elastis. Alat kelamin mulai mengerut, Liang senggama kering sehingga menimbulkan nyeri pada saat senggama, keputihan, rasa sakit pada saat kencing. Keadaan ini membuat hubungan seksual akan terasa sakit. Keadaan ini sering kali menimbulkan keluhan pada wanita bahwa frekuensi buang air kecilnya meningkat dan tidak dapat menahan kencing terutama pada saat batuk, bersin, tertawa atau orgasme.

d.
Perubahan Kulit
 
 
Estrogen berperan dalam menjaga elastisitas kulit, ketika menstruasi berhenti maka kulit akan terasa lebih tipis, kurang elastis terutama pada daerah sekitar wajah, leher dan lengan. Kulit di bagian bawah mata menjadi mengembung seperti kantong, dan lingkaran hitam dibagian ini menjadi lebih permanen dan jelas (Hurlock, 1992)

e.
Keringat di Malam Hari
 
 
Berkeringat malam hari,  bangun bersimbah peluh. Sehingga perlu mengganti pakaian dimalam hari. Berkeringat malam hari tidak saja menggangu tidur melainkan juga teman atau pasangan tidur. Akibatnya diantara keduanya merasa lelah dan lebih mudah tersinggung, karena tidak dapat tidur nyenyak.

f.
Sulit Tidur
 
 
Insomnia (sulit tidur) lazim terjadi pada waktu menopause, tetapi hal ini mungkin ada kaitannya dengan rasa tegang akibat berkeringat malam hari, wajah memerah dan perubahan yang lain.

g.
Perubahan Pada Mulut
 
 
Pada saat ini kemampuan mengecap pada wanita berubah menjadi kurang peka, sementara yang lain mengalami gangguan gusi dan gigi menjadi lebih mudah tanggal.

h.
Kerapuhan Tulang
 
 
Rendahnya kadar estrogen merupakan penyebab proses osteoporosis (kerapuhan tulang). Osteoporosis merupakan penyakit kerangka yang paling umum dan merupakan persoalan bagi yang telah berumur, paling banyak menyerang wanita yang telah menopause. Biasanya kita kehilangan 1% tulang dalam setahun akibat proses penuaan (mungkin ini yang menyebabkan nyeri persendian), tetapi kadang setelah menopause kita kehilangan 2% setahunnya. John Hutton (1984:35) memperkirakan sekitar 25% wanita kehilangan tulang lebih cepat daripada proses menua. Menurunnya kadar estrogen akan diikuti dengan penurunan penyerapan kalsium yang terdapat dalam makanan. Kekurangan kalsium ini oleh tubuh diatasi dengan menyerap kembali kalsium yang terdapat dalam tulang, dan akibatnya tulang menjadi keropos dan rapuh.

i.
Badan Menjadi Gemuk
 
 
Banyak wanita yang menjadi gemuk selama menopause. Rasa letih yang biasanya dialami pada masa menopause, diperburuk dengan perilaku makan yang sembarangan. Banyak wanita yang bertambah berat badannya pada masa menopause, hal ini disebabkan oleh faktor makanan ditambah lagi karena kurang berolahraga.  

j.
Penyakit
 
 
Ada beberapa penyakit yang seringkali dialami oleh wanita menopause. Dari sudut pandang medik ada 2 (dua) perubahan paling penting  yang terjadi pada waktu menopause yaitu meningkatnya kemungkinan terjadi penyakit jantung, pembuluh darah serta hilangnya mineral dan protein di dalam tulang (osteoporosis). Penyakit jantung dan pembuluh darah dapat menimbulkan gangguan seperti stroke atau serangan jantung. Selain itu penyakit kanker juga lebih sering terjadi pada orang yang berusia lanjut.  Semakin lama kehidupan maka semakin besar kemungkinan penyakit itu menyerang.  Misalnya kanker payudara, kanker rahim dan kanker ovarium. Kanker payudara lebih umum terjadi pada wanita yang telah melampaui masa menopause.
Kanker rahim adalah istilah luas untuk kanker yang terjadi di rahim, ada dua bagian rahim yang dapat menjadi tempat bermulanya kanker. Yang pertama adalah serviks, kanker ini terutama berjangkit pada wanita berusia diatas 30 tahun. Gejala yang harus diperhatikan adalah pendarahan vagina setelah persetubuhan, pergetahan vagina yang tidak biasa dan noda diantara haid. Sementara kanker indometrium (kanker tubuh rahim) terutama menjangkiti wanita diatas usia 45 tahun, yang paling menanggung resiko adalah yang pernah mendapat haid agak lambat, dan yang mempunyai kombinasi antara tekanan darah tinggi, diabetes, dan berat tubuh berlebih. Gejalanya adalah pendarahan tak normal, pendarahan antara haid, keluaran darah yang lebih lama atau lebih kental dibandingkan biasanya, dan pendarahan haid terakhir dalam menopause.
Psikologis
Aspek psikologis yang terjadi pada lansia atau wanita menopause amat penting peranan dalam kehidupan sosial lansia terutama dalam menghadapi masalah-masalah yang berkaitan dengan pensiun; hilangnya jabatan atau pekerjaan yang sebelumnya sangat menjadi kebanggaan sang lansia tersebut. Berbicara tentang aspek psikologis lansia dalam pendekatan eklektik holistik, sebenarnya tidak dapat dipisahkan antara aspek organ-biologis, psikologis, sosial, budaya dan spiritual dalam kehidupan lansia.
Beberapa gejala psikologis yang menonjol ketika menopause adalah mudah tersinggung, sukar tidur, tertekan, gugup, kesepian, tidak sabar, tegang (tension), cemas dan depresi. Ada juga lansia yang kehilangan harga diri karena menurunnya daya tarik fisik dan seksual, mereka merasa tidak dibutuhkan oleh suami dan anak-anak mereka, serta merasa kehilangan femininitas karena fungsi reproduksi yang hilang.  Beberapa keluhan psikologis yang merupakan tanda dan gejala dari menopause yaitu:
a.
Ingatan Menurun
Gelaja ini terlihat bahwa sebelum menopause wanita dapat mengingat dengan mudah, namun sesudah mengalami menopause terjadi kemunduran dalam mengingat, bahkan sering lupa pada hal-hal yang sederhana, padahal sebelumnya secara otomatis langsung ingat.
b.
Kecemasan
Banyak ibu-ibu yang mengeluh bahwa setelah menopause dan lansia merasa menjadi pencemas. Kecemasan yang timbul  sering dihubungkan dengan adanya kekhawatiran dalam menghadapi situasi yang sebelumnya tidak pernah dikhawatirkan. Misalnya kalau dulu biasa pergi sendirian ke luar kota sendiri, namun sekarang merasa cemas dan khawatir, hal itu sering juga diperkuat oleh larangan dari ana-anaknya. Kecemasan pada Ibu-ibu lansia yang telah menopause umumnya bersifat relatif, artinya ada orang yang cemas  dan dapat tenang kembali, setelah mendapatkan semangat/dukungan dari ornag di sekitarnya; namun ada juga yang terus-menerus cemas, meskipun orang-orang disekitarnya telah memberi dukungan. Akan tetapi banyak juga ibu-ibu yang mengalami menopause namun tidak mengalami perubahan yang berarti dalam kehidupannya. Menopause rupanya mirip atau sama juga dengan masa pubertas yang dialami seorang remaja sebagai awal berfungsinya alat-alat reproduksi, dimana ada remaja yang cemas, ada yang khawatir namun ada juga yang biasa-biasa sehingga tidak menimbulkan gejolak.
Adapun simtom-simtom psikologis adanya kecemasan bila ditinjau dari beberapa aspek, menurut Blackburn and Davidson (1990 :9) adalah sebagai berikut :
  1. Suasana hati yaitu keadaan yang menunjukkan ketidaktenangan psikis, seperti: mudah marah, perasaan sangat tegang.
  2. Pikiran yaitu keadaan pikiran yang tidak menentu, seperti: khawatir, sukar konsentrasi, pikiran kosong, membesar-besarkan ancaman, memandang diri sebagai sangat sensitif, merasa tidak berdaya.
  3. Motivasi yaitu dorongan untuk mencapai sesuatu, seperti : menghindari situasi, ketergantungan yang tinggi, ingin melarikan diri, lari dari kenyataan.
  4. Perilaku gelisah yaitu keadaan diri yang tidak terkendali seperti : gugup, kewaspadaan yang berlebihan, sangat sensitif dan agitasi.
  5. Reaksi-reaksi biologis yang tidak terkendali, seperti : berkeringat, gemetar, pusing, berdebar-debar, mual, mulut kering.
   
Gangguan kecemasan dianggap berasal dari suatu mekanisme pertahanann diri yang dipilih secara alamiah oleh makhluk hidup bila menghadapi sesuatu yang mengancam dan berbahaya. Kecemasan yang dialami dalam situasi semacam itu memberi isyarat kepada makhluk hidup agar melakukan tindakan mempertahankan diri untuk menghindari atau mengurangi bahaya atau ancaman.
Menjadi cemas pada tingkat tertentu dapat dianggap sebagai bagian dari respon normal untuk mengatasi masalah sehari-hari. Bagaimana juga, bila kecemasan ini berlebihan dan tidak sebanding dengan suatu situasi, hal itu dianggap sebagai hambatan dan dikenal sebagai masalah klinis. 
c.
Mudah Tersinggug
Gejala ini lebih mudah terlihat dibandingkan kecemasan. Wanita lebih mudah tersinggung dan marah terhadap sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak menggangu. Ini mungkin disebabkan dengan datangnya menopause maka wanita menjadi sangat menyadari proses mana yang sedang berlangsung dalam dirinya. Perasaannya menjadi sangat sensitif terhadap sikap dan perilaku orang-orang di sekitarnya, terutama jika sikap dan perilaku tersebut dipersepsikan sebagai menyinggung proses penerimaan yang sedang terjadi dalam dirinya.
d.
Stress
Tidak ada orang yang bisa lepas sama sekali dari rasa was-was dan cemas, termasuk para lansia menopause. Ketegangan perasaan atau stress selalu beredar dalam lingkungan pekerjaan, pergaulan sosial, kehidupan rumah tangga dan bahkan menyelusup ke dalam tidur. Kalau tidak ditanggulangi stress dapat menyita energi, mengurangi produktivitas kerja dan menurunkan kekebalan terhadap penyakit, artinya kalau dibiarkan dapat menggerogoti tubuh secara diam-diam.
Namun demikian stress tidak hanya memberikan dampak negatif, tapi bisa juga memberikan dampak positif. Apakah kemudian dampak itu positif atau negatif, tergantung pada bagaimana individu memandang dan mengendalikannya. Stress adalah suatu keadaan atau tantangan yang kapasitasnya diluar kemampuan seseorang oleh karena itu, stress sangat individual sifatnya.
Respon orang terhadap sumber stress sangat beragam, suatu rentang waktu bisa tiba-tiba jadi pencetus stress yang temporer. Stress dapat juga bersifat kronis misalnya konflik keluarga. Reaksi kita terhadap pencetus stress dapat digolongkan dalam dua kategori psikologis dan fisiologis.
Di tingkat psikologis, respon orang terhadap sumber stress tidak bisa diramalkan, sebagaimana perbedaan suasana hati dan emosi kita dapat menimbulkan beragam reaksi, mulai dari hanya ekspresi marah sampai akhirnya ke hal-hal lain yang lebih sulit untuk dikendalikan. Di tingkat psikologis, respon orang terhadap sumber stress ini tergantung pada beberapa faktor, termasuk keadaan emosi pada saat itu dan sikap orang itu dalam menanggapi stress tersebut. 
e.
Depresi
 
 
Dari penelitian-penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat dan Eropa diperkirakan 9% s/d 26% wanita dan 5% s/d 12% pria pernah menderita penyakit depresi yang gawat di dalam kehidupan mereka. Setiap saat, diperkirakan bahwa 4,5% s/d 9,3% wanita dan 2,3% s/d 3,2% pria akan menderita karena gangguan ini. Dengan demikian secara kasar dapat dikatakan bahwa wanita dua kali lebih besar kemungkinan akan menderita depresi daripada pria.
Wanita yang mengalami depresi sering merasa sedih, karena kehilangan kemampuan untuk bereproduksi, sedih karena kehilangan kesempatan untuk memiliki anak, sedih karena kehilangan daya tarik. Wanita merasa tertekan karena kehilangan seluruh perannya sebagai wanita dan harus menghadapi masa tuanya.
Depresi dapat menyerang wanita untuk satu kali, kadang-kadang depresi merupakan respon terhadap perubahan sosial dan fisik yang sering kali dialami dalam fase kehidupan tertentu, akan tetapi beberapa wanita mungkin mengembangkan rasa depresi yang dalam yang tidak sesuai atau proporsional dengan lingkungan pribadi mereka dan mungkin sulit dihindarkan.
Simton-simton psikologis adanya depresi bila ditinjau dari beberapa aspek, menurut Marie Blakburn dan Kate Davidson (1990:5) adalah sebagai berikut :
 
 
  1. Suasana hati, ditandai dengan kesedihan, kecemasan, mudah marah.
  2. Berpikir, ditandai dengan mudah hilang konsentrasi, lambat dan kacau dalam berpikir, menyalahkan diri sendiri, ragu-ragu, harga diri rendah.
  3. Motivasi, ditandai dengan kurang minat bekerja dan menekuni hobi, menghindari kegiatan kerja dan sosial, ingin melarikan diri, ketergantungan tinggi pada orang lain.
  4. Perilaku gelisah terlihat dari gerakan yang lamban, sering mondar-mandir, menangis, mengeluh.
  5. Sintom biologis, ditandai dengan hilang nafsu makan atau nafsu makan bertambah, hilang hasrat sesksual, tidur terganggu,  gelisah.
Mungkin masih ada gejala-gejala fisik maupun psikologis lain yang menyertai menopause. Gejala-gejala tersebut diatas sangat perlu dipahami supaya tidak terjadi kesalahpahaman dalam memperlakukan para lansia. Dengan memahami gejala tersebut diharapkan lansia dapat mengerti apa yang sedang terjadi dalam diri mereka. Selain itu pihak keluarga pun diharapkan dapat merespon secara tepat sehingga tidak membuat lansia merasa dikucilkan atau disia-siakan. Mari kita bantu para lansia kita dengan memahami berbagai gejala fisik maupun psikologis sehingga tahu bagaimana cara terbaik untuk membantu mereka


Kurang Gizi

  1. PENGERTIAN
Kurang gizi adalah ketidakseimbangan (berkurangnya) anatara kebutuhan tubuh dan asupan gizi essensial.

  1. PENYEBAB
  1. Kekurangan makanan dalam jangka waktu yang lama
  2. Menderita sakit dalam jangka waktu yang lamakeadaan usus yang tidak dapat mencerna dan menyerap makanan dengan baik.

  1. TANDA DAN GEJALA
  1. Badan kurus
  2. Rambut tipis
  3. Berat badan tidak sesuai dengan umur atau standar yang ada.
  4. Pucat, kulit kering, dan kusam.
  5. Lemak dan otot lembek
  6. Badan kurus
  7. Rambut tipis
  8. Berat badan tidak sesuai dengan umur atau standar yang ada.
  9. Pucat, kulit kering, dan kusam.
  10. Lemak dan otot lembek
  11. Pertumbuhan terhambat

  1. AKIBATLANJUT DARI KURANG GIZI
  1. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan
  2. Gangguan fungsi tubuh yang menyebabkan penurunan daya tahan tubuh
  3. Gangguan fungsi otak dan berkurangnya daya pikir
  4. Lekas capek dan lemes/fisik lemah mengganggu aktivitas sehari-hari anak.
  1. CARA PERAWATAN
  1. Berikan makanan yang bergizi dan seimbang
  2. Motivasi anak untuk pola makan yang teratur
  3. Anjurkan anak makan dalam porsi sedikit tapi sering
  4. Hidangkan makanan kesukaan anak
  5. Berikan makanan selingan dan sajikan dalam keadaan yang menarik.
  6. Berikan vitamin pada anak.

  1. PEDOMAN GIZI SEIMBANG
  1. Makanan beraneka ragam
  2. Memenuhi kecukupan energi
  3. Gunakan garam beryodium M
  4. Makan zat besi, biasakan makan pagi
  5. Minum air bersih
  6. Makanan aman bagi kesehatan.

  1. PEDOMAN MEMILIH DAN MENYAJIKAN MAKANAN
  1. Nilai gizi baik
  2. Harga terjangkau
  3. Memenuhi syarat kesehatan
  4. Jumlah sesuai dengan kebutuhan
  5. Kombinasi bahan makanan dan keuangan
  6. Susunan menu seimbang

Katarak


  1. PENGERTIAN
Katarak adalah keadaan kekeruhan pada lensa yang terjadi akibat hidrasi (penambahan) cairan lensa.

  1. PENYEBAB
  1. Primer : berdasarkan gangguan perkembangan
  2. Sekunder : akibat tindakan pembedahan lensa
  3. Komplikasi penyakit lokal ataupun umum

  1. TANDA DAN GEJALA
  1. Penglihatan berkurang perlahan-lahan
  2. Silau bila melihat cahaya
  3. Bila melihat benda berwarna kekuning-kuningan silau
  4. Penglihatan malam/penerangan menurun/melihat pelangi

  1. AKIBAT KATARAK
  1. Katarak keturunan : katarak yang terlihat pada usia di bawah 1 tahun
  2. Katarak yang terlihat pada usia di atas 1 tahun dan di bawah 40 tahun
  3. Katarak presentil : katarak sesudah usia 30-40 tahun
  4. Katarak senile : katarak yang mulai terjadi pada usia lebih dari 40 tahun.

  1. CARA PERAWATAN
Dengan memodifikasi lingkungan yaitu :
  1. Luangkan tempat agar tidak terjadi risiko jatuh
  2. Hindarkan alat yang tajam
  3. Hindari lantai yang licin
  4. Penerangan yang cukup pada malam hari
  5. WC dibuat duduk atau kursi lobang
  6. Tangga diberi pegangan
  7. Gunakan tongkat bila berjalan
  8. Motivasi untuk perika ke pelayanan kesehatan

  1. AKTIVITAS YANG TIDAK DIPERBOLEHKAN
  1. Jangan berjalan sendirian bila bepergian jauh
  2. Aktivitas yang berat (mengangkat beban berat)
  3. Olahraga berat
  4. Aktivitas yang menggunakan alat-alat tajam


Kehamilan Resiko Tinggi


  1. Pengertian Kehamilan Risiko Tinggi
Kehamilan risiko tinggi adalah : kondisi ibu hamil yang perlu diwaspadai karena mempunyai faktor risiko yang berpengaruh terhadap kehamilan dan persalinannya.

  1. Penyebab Atau Faktor Risiko Kehamilan Risiko Tinggi
  1. Umur kurang dari 20 tahun
  2. Umur lebih dari 35 tahun
  3. Jumlah anak lebih dari 4 orang
  4. Jarak kehamilan dengan anak sebelumnya kurang dari 2 tahun
  5. Tinggi badan kurang dari 145 cm
  6. Lingkar lengan atas (LILA) kurang dari 23,5 cm
  7. Pernah mengalami kesulitan dalam kehamilan dan persalinan terdahulu misalnya kejang-kejang, demam, operasi sectio caesaria

  1. Tanda Bahaya Kehamilan Risiko Tinggi
  1. Muntah terus-menerus
  2. Tidak nafsu makan
  3. Perdarahan waktu hamil/flek-flek
  4. Tekanan darah tinggi
  5. Pusing-pusing
  6. Bengkak paad wajah, tangan, dan kaki.
  7. Demam tinggi, keluar cairan dari rahim dan berbau
  8. Keluar cairan ketuban sebelum melahirkan.
  9. Berat badan tidak naik
  10. Letak lintang/sungsang
  11. Mempunyai penyakit seperti : penyakit jantung, anemia, TBC, kencing manis.

  1. Cara Perawatan Penderita Kehamilan Risiko Tinggi
Cara  merawat  anggota keluarga yang mengalami kehamilan risiko tinggi :
  1. Periksa kehamilan secara teratur
  2. Melahirkan ditolong bidan atau dokter
  3. Menu makanan yang seimbang.
  4. Istirahat yang cukup

  1. Cara Perawatan Ibu Hamil Yang Menderita Hipertensi
  1. Ibu hamil banyak istirahat
  2. Minum obat sesuai ketentuan
  3. Memeriksakan tekanan darah secara teratur
  4. Mengenal tanda bahaya yang timbul
  5. Mengatur makanan sesuai anjuran.

  1. Cara Memodifikasi Lingkungan :
  1. Jaga agar lantai kamar mandi tidak licin.
  2. Tempatkan perabotan rumah tangga dengan rapi dan teratur.
  3. Untuk mengurangi nyeri :
  1. Atur agar lingkungan nyaman dan tidak bising.
  2. Lakukan masase di area tengkuk atau punggung
  3. Latihan nafas dalam
  1. Jauhkan benda-benda yang berbahaya.
  2. Atur pencahayaan rumah, misalnya dengan membuka jendela dan menyediakan genting kaca.
  3. Atur penerangan rumah agar terang di malam hari.




Caries Gigi


  1. Pengertian caries gigi
Caries gigi adalah  kerusakan gigi yang oleh karena lepasnya calcium  (dimineralisasi) lapisan luar ( enamel ) gigi sehingga gigi menjadi keropos dan berlubang.

  1. Penyebab caries gigi
Plaque ( plak ) / endapan lunak yang menutupi dan melekat pada permukaan gigi yang terdiri dari semacam  bahan perekat dan aneka ragam bakteri. Bakteri akan merubah sukrosa menjadi energi sambil memproduksi  asam organik yang menyebabkan gigi keropos

  1. Akibat lanjut / komplikasi dari caries gigi
  1. Nyeri / rasa sakit / linu apabila terkena makanan
  2. Gigi menjadi keropos dan membusuk
  3. Terjadi bengkak dan peradangan  gusi
  4. Terjadi infeksi

  1. Cara perawatan gigi
  1. Gigi harus disikat supaya bersih dari sisa makanan
  2. Sikatlah gigi paling sedikit 2 kali sehari yaitu pagi hari sesudah sarapan dan malam hari sebelum tidur.
  3. Menyikat gigi memakai sikat gigi yang lembut dan kepala sikat kecil
  4. Menyikat gigi dengan pasta gigi yang berfluoride

  1. Cara menggosok gigi yang benar
  1. Sikatlah semua permukaan gigi dengan gerakan maju mundur dan pendek – pendek selama 2 menit 8 x tiap permukaan
  2. Sikatlah gigi yang menghadap langit – langit
  3. Sikatlah gigi yang dipakai untuk mengunyah
  4. Setelah semua permukaan gigi selesai disikat kumurlah 1 kali saja. Dan bersihkan bagian sela – sela gigi dengan benang pembersih gigi   (dental floss)

  1. Jenis makanan yang tidak baik  untuk kesehatan gigi
Makanan yang lengket  dan manis – manis : Permen, coklat, dodol, biscuit, minum – minuman yang bersoda

  1. Jenis makanan yang baik untuk kesehatan gigi
Jagung rebus, kacang, ubi, singkong, pisang goring dan buah buahan (jambu air, belimbing, semangka dan papaya)

Sumber : Materi UKS “Kesehatan Gigi dan Mulut” (Puskesmas Manyaran)

Hipertensi

BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar  Belakang
Hipertensi merupakan masalah  kesehatan yang cukup dominan di negara-negara maju. Di Indonesia prevalensi untuk menderita hipertansi masih rendah presentasinya.Walaupun demikian bukan berarti ancaman penyakit hipertensi diabaikan begitu saja.Bagi masyarakaat golongan atas hipertensi benar-benar menjadi momok yang menakutkan (Sri Rahayu : 2000).
Prevalensi penyakit hipertensi di negara maju seperti Amerika Serikat rata-rata 20 %.Penyakit hipertensi merupakan penyakit nomor satu di Amerika Serikat. Di negara Indonesia rata-rata  6-15 %.Presentasi ini mungkin masih tinggi karena jumlah anak dibawah 15 tahun di negara Indonesia  lebih kurang 15 %  dari populasi (Rahayu : 2000).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Budi Darmojo bahwa di Indonesia 1,8-28,6 % penduduk yang berusia > 20 tahun adalah penderita Hipertensi dan pada umumnya berkisar antara 6 – 10  % . Di provinsi Jawa Timur angka kesakitaan  penyakit hipertensi tahun 1998 –1999 : 12,42 % (Data Provil). Sedangkan dari laporan bulanan puskesmas Mojo terhitung dari bulan Januari 1998 sampai bulan Desember tahun 1999 yang berkunjung ke Puskesmas Mojo adalah 19,13 % .dan tahun  2000 : 47,1%. Mengamati data tersebut  dapat memberikan gambaran bahwa masalah penyakit hipertensi khususnya di puskesmas Mojo perlu mendapat pengamatan, pengawasan serta perawatan yang komprehensip.
Hipertensi merupakan factor resiko, primer yang menyebabkan penyakit jantung dan stroke.Hipertensi disebut juga sebagai The Shilent Disease karena tidak ditemukan tanda –tanda fisik yang dapat dilihat (Gede Yasmin : 1991).  
Banyak ahli beranggapan bahwa hipertensi lebih tepat disebut sebagai Heterogenus Group of Disease dari pada single disease.Hipertensi yang tidak tekontrol akan menyebabkan kerusakan organ tubuh seperti otak, ginjal, mata dan jantung serta kelumpuhan anggota gerak. Namun kerusakan yang paling sering adalah  gagal  jantung dan stroke serta gagal ginjal (Susi Purwati  : 2000).
Untuk menghindari hal tersebut perlu pengamatan secara dini. Hipertensi sering ditemukan pada usia tua/lanjut kira-kira 65 tahun keatas (Sri Rahayu : 2000 : 7 ).
Untuk mencegah komplikasi diatas sangat diperlukan perawatan dan pengawasan yang baik. Banyak kasus penderita dan kematian akibat penyakit kardiovaskuler dapat dicegah jika seorang merubah perilaku kebiasaan yang kurang sehat dalam mengkonsumsi makanan yang menyebabkan terjadinya hipertensi, selalu berolah raga secara teratur serta merubah kebiasan hidup lainnya yang dapat mencetus terjadinya penyakit hipertensi seperti merokok, minum-minuman beralkohol. Adapun factor dietik dan kebiasaan makan yang mempengaruhi  tekanan daran yang meliputi, cara mempertahankan berat badan ideal, natrium klorid, Kalium, Kalsium, Magnesium, lemak dan alcohol. (Dr. Wendra  Ali  1996  : 3, 20, 21).
Apabila dalam satu keluarga ada anggota keluarga yang menderita penyakit hipertensi, maka mungkin dapat timbul beberapa masalah  seperti  :
  1. Ketidak patuhan diit rendaah garam dan rendah lemak.
  2. Resiko terjadinya komplikasi bagi penderita .
  3. Sumber daya keluarga  kurang   .
  4. Perubahan fisiologi (mudah  marah dan tersinggung)
  5. Keadaan ekonomi (bertambahnya pengeluaran dan berkurangnya pendapatan. Keluarga).
Dalam pelaksanaan tugas–tugas kesehatan keluarga mempunyai peranan yang sangat penting dalam pemeliharaan kesehatan bagi anggota keluarga yang menderita penyakit hipertensi. Freedmen (1981) membagi lima (5) peran yang dilakukan keluarga yaitu : mengenal gejala hipertensi, mampu mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat untuk menolong klien hipertensi, mampu memberikan asuhan keperawatan pada anggota  keluarga yang menderita hipertensi dalam mengatasi masalahnya dan meningkatkan produktivitas keluarga  dalam meningkatkan mutu hidup anggota keluarga, yang menderita penyakit  hipertensi.
Untuk mencapai tujuan perawatan kesehataan keluarga yang optimal, sangatlah penting peran perawat dalam memberikan asuhan keperawatan.
Adapun peran perawat dalam membantu keluarga yang anggota keluarganya menderita penyakit hipertensi antara lain : mampu mengenal asuhan keperawatan pada keluarga yang menderita penyakit hipertensi, sebagai pengamat masalah dan  kebutuhan keluarga, sebagai koordinator pelayanan kesehatan, sebagai fasilitator, sebagai pendidik kesehatan, sebagai penyuluh dan konsultan dalam asuhan  perawatan dasar pada keluarga yang menderita penyakit hipertensi.
Dari uraian latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan beberapa masalah sebagai  berikut  :
  1. Mengapa prevalensi penyakit hipertensi tiap tahun meningkat.
  2. Bagaimana peran keluarga dalam membantu mengatasi masalah yang salah satu anggotanya menderita penyakit hipertensi.  
  3. Bagaimana peran perawat puskesmas dalam mengarahkan dan membantu keluarga yang anggotanya menderita penyakit hipertensi.
  4. Bagaimana perawat membuat asuhan keperawatan pada keluarga yang  menderita penyakit hipertensi.

  1. Batasan Masalah
Oleh karena begitu banyak aspek dan ruang lingkup yang dapat ditemukan  dari masalah diatas serta keterbatasan penulis dalam hal tenaga, kemampuan , pengalaman, keterampilan, waktu dan pengetahuan, maka penulis membatasi permasalahannya hanya pada “Bagaimana Asuhan Keperawatan yang baik dan benar pada keluarga yang salah satu anggota keluarganya menderita penyakit hipertensi dengan masalah “Nutrisi“ melalui proses pendekatan keperawatan  .
Ruang lingkup pembahasan penulis terbatas pada  :
  1. Penulis hanya mengasuh pada satu keluarga saja.
  2. Dalam asuhan keperawatan penulis hanya mengambil satu penyebab masalah hipertensi yaitu : Masalah Nutrisi
  3. Keluarga yang terpilih berdasarkan penunjukan kepala puskesmas Mojo.
  4. Lebih menitikberatkan pada aspek keperawatan
Dengan pembatasan masalah tersebut penulis menyusun karya tulis ini  dengan  judul : Asuhan Keperawatan Keluarga Tn IS yang anggota keluarganya menderita  hipertensi dengan masalah nutrisi di RT V, RW VI Kelurahan Mojo wilayah kerja puskesmas Mojo Kota Madya Surabaya .

  1. Tujuan Penulisan
  1. Tujuan Umum
Penulis mampu menerapkan pola pikir ilmiah dalam melaksanakan asuhan  keperawataan keluarga tuan IS. di RT V, RW VI dengan penyakit  hipertensi  yang disebabkan oleh akibat nutrisi melalui pendekatan proses keperawatan.

  1. Tujuan khusus
Tujuan khusus dari penulisan karya tulis ini agar penulis mampu :
  1. Mengumpulkan data pada keluarga tuan IS.dengan penyakit hipertensi.
  2. Menganalisa data yang telah dikumpulkan.
  3. Merumuskan masalah kesehatan keluarga.
  4. Menentukan prioritas masalah.
  5. Menentukan diagnosa keperawatan .
  6. Menentukan rencana tindakan keperawatan .
  7. Melaksanakan tindakan keperawaatan.
  8. Mengevaluasi hasil tindakan keperawatan.
  9. Mendokumentasikan hasil asuhan keperawatan.
  1. Metodelogi
Metode yang digunakan penulis dalam karya tulis ini adalah  :
  1. Metode penyusunan
Deskriptif
Metode yang digunakan yang mengungkapkan peristiwa dan bertujuan pada  pemecahan masalah yang dihadapi saat ini dan hasilnya dapat dievaluasi  pada  saat  ini  juga.
  1. Studi  pustaka
Yaitu mencari imformasi-informasi melalui beberapa literature yang berasal  dari buku-buku  ilmiah, majalah ilmiah serta media cetak lainnya yang ada  diperpustakaan untuk dijadikan landasan teori dalam memberikan   pelayanan  maupun  penulisan  kaarya  tulis   ini.
  1. Studi  lapangan
Yaitu memberikan asuhan keperawatan secara nyata dilapangan  untuk memperoleh gambaran sebenarnya tentang perkembangan suatu subyek melalui proses keperawatan (Teli zedahan  Ndraha   1985 : 105).  
  1. Lokasi dan waktu
Lokasi yang digunakan sebagai sumber bahan karya  tulis adalah diwilayah kerja puskesmas Mojo.  Kegiatan ini dilaksanakan mulai tanggal 25 April sampai tanggal 30 Juni 2001.
  1. Tehnik  pengumpulan  data
Dalam pengumpulan data dipakai tehnik sebagai berikut :
  1. Oservasi
  2. Wawancara
  3. Pemeriksaan  fisik
  1. Jenis  data
  1. Data  primer  diperoleh  dari  wawancara  dan  observasi  langsung.
  2. Data  sekunder.  

  1. Sistimatika  penulisan.
Dalam penyusunan karya tulis ini penulis menggunakan sistimatika sebagai  berikut:
Bab pertama pendahuluaan menguraikan tentang latar belakang masalah, tujuan  penulisan, batasan  masalah ,metodelogi  penulisan ,sistimatika penulisan.
Bab kedua tinjauan pustaka yang menguraikan tentang konsep dasar yang terdiri  dari keperawatan kesehatan, kesehatan keluarga, factor yang mempengaruhi  sehat-sakit,defenisi  hipertensi, patofisiologi, nutrisi  dan dampak masalah , keperawatan  kesehatan keluarga serta asuhan keperawatan yang terdiri dari: pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi .
Bab ketiga yaitu tinjauan kasus yang menguraikan tentang asuhan keperawatan  kesehatan keluarga dilapangan, mulai dari  pengkajian sampai pada evaliasi.
Bab keempat pembahasaan yang menguraikan tentang kesenjangan antara bab  kedua  dan  bab  ketiga  dengan  mengacu  pada  tujuan.
Bab kelima  penutup yang menguraikan tentang  kesimpulan dan saran sebagai  hasil dari jawaban terhadap tujuan penulisan. Kemudian dilanjutkan dengan daftar pustaka dan lampiran–lampiran.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A .  Konsep   Dasar
  1. Keperawatan  Kesehatan  Keluarga
  1. Defenisi  keluarga
1)  Menurut  Depkes. RI.  1988
Keluarga adalah  unit  terkecil dari masyarakat yang terdiri  atas  kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal  disuatu tempat dibawah satu atap dalam keadaan saling ke tergantungan.
Menurut  S .G . Bailon  dan  Aracelis   Maglaya  1989  
Keluarga adalah dua atau lebih dari individu yangtergabung  karena hubungan darah, hubungan perkawinan, atau pengangkatan  dan  mereka hidup bersama dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama  lain dan di dalam perannya masing-masing menciptakan serta  mempertahankan  kebudayaan  ( Nasrul  Effendi ,1998 : 33 ).
Dari kedua definisi diatas dapat disimpulkan bahwa  keluarga  adalah  :
  1. Unit  terkecil  dari  masyarakat.
  2. Terdiri  atas  dua  orang  atau  lebih.
  3. Adanya  ikatan  perkawianan   dan  pertalian  darah.
  4. Hidup  dalam  satu  rumah  tangga.
  5. Dibawah  asuhan  seorang  kepala  keluarga.
  6. Berinteraksi  diantara  sesama  anggota  keluarga
  7. Setiap  anggota  keluarga  mempunyai  perannya  masing-masing.
  8. Menciptakan dan  mempertahankan  kebudayaan
 2) Keperawaatan  kesehatan keluarga
     Menurut  S.G. Bailon  dan Aracelis  Maglaya  1978  
                    Perawatan kesehatan keluarga adalah tingkat perawatan kesehatan masyarakat yang ditujukan atau dipusatkan  pada  keluarga  sebagai unit atau kesatuan yang dirawat dengan sehat sebagai tujuan  melalui  perawatan  sebagai  sarana  penyalur (Nasrul Effendi,1998:39)
  1. Tipe  keluarga
    Terdiri  dari  :
  1. Keluarga inti (nuclear  family) adalah keluarga yang terdiri dari  ayah, ibu, anak-anak.
  2. Keluarga besar (extended family) adalah keluarga inti ditambah dengan sanak saudara, misalnya nenek, kakek, keponakandan sebagainya .
  3. Keluarga berantai (serial family) ialah keluarga yang terdiri dari wanita dan pria yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan satu keluarga inti.
  4. Keluarga duda/janda (single family) adalah keluarga yang terjadi karena perceraian atau kematian.
  5. Keluarga berkomposisi (composite) adalah keluarga yang perkawinanya berpoligami dan hidup secara bersama–sama.
  6. Keluarga kabitas (cahabitasia) adalah dua orang menjadi satu tanpa pernikahan tetapi membentuk suatu keluarga .  
  1. Keluarga sebagai unit keperawatan
Alasan keluarga sebagai unit pelayanan  ( R.B freedman,  1981 ) adalah   sebagai berikut  :
  1. Keluarga sebagai unit utama masyarakat dan merupakan lembaga yang menyangkut kehidupan masyarakat .
  2. Keluarga sebagai suatu dapat menimbulkan, mencegah, mengabaikan atau memperbaiki masalah – masalah dalam kelompoknya
  3. Masalah-masalah kesehatan dalam keluarga saling berkaitan dan apabila salah satu angota keluarganya mempunyai masalah kesehatan akan berpengaruh terhadap anggota keluarga yang lain.
  4. Dalam memelihara kesehatan anggota keluarga sebagai individu ( pasien ) keluarga tetap berperan sebagai pengambil keputusan dalam memelihara kesehatan anggota keluarganya yang menderita hipertensi.
  5. Keluarga merupakan perantara yang efektif dan mudah dalam upaya kesehatan bagi anggota keluarga yang menderita sakit hipertensi.  
  1. Factor yang mempengaruhi sehat - sakit
Faktor yang mempengaruhi status kesehatan individu dan keluarga menurut H. L Bloom yaitu
  1. Faktor lingkungan
Faktor lingkungan yang dapat mencegah terjadinya penyakit hipertensi adalah dengan cara menghindari adanya stres
  1. Faktor social budaya
a). Factor social budaya yang dapat mempengaruhi penyakit hipertensi adalah :
  1. Kebiasaan merokok
  2. Kebiasaan mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung garam
  3. Pola diet tidak teratur
  4. Bila sakit tidak segera berobat         
b) Status social budaya yang dapat meningkatkan stasus kesehatan pada kasus hipertensi adalah :
  1. Menghindari kebiasaan merokok.
  2. Mengurangi konsumsi makanan yang banyak mengandung garam .
  3. Menjaga berat badan dan olah raga yang terratur
  4. Melakukan konril yang teratur  
3) Pelayanan kesehatan
Pelayanan kesehatan sangat diperlukan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat hipertensi
4) Faktor keturunan
Penyakit hipertensi merupakan penyakit yang bersifat genetic
  1. Tugas keluarga dalam pemeliharaan kesehatan  
Menurut Freedman ( 1981) keluarga mempunyai lima  (5 ) tugas     memelihara kesehatan keluarga khususnya  keluarga yang anggotanya menderita penyakit hipertensi yaitu :
  1. Mengenal gangguan dan perkembangan kesehatan setiap anggota keluarga  tentang gejala hipertensi
  2. Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat terhadap angota keluarga yang menderita penyakit hpertensi
  3. Memberikan perawatan kepada anggota keluarga yang menderita hipertensi
  4. Mempertahankan suasana di rumah yang menguntungkan kesehatan dan perkembangan kepada anggota keluarganya
  5. Mempertahankan hubungan timbal balik dengan fasilitas kesehatan yang dapat mengatasi penyakit hipertensi.
  1. Peran perawat dalam memberi asuhan keperawatan pada keluarga yang menderita penyakit hipertensi.    
Dalam proses membantu keluarga yang menderita penyakit hipertensi maka peran perawat diperlukan sebagai berikut :
  1. Pengenal  tentang gejala hipertensi
     Perawat membatu keluarga untuk mengenal tentang gejala penyakit hipertensi .
  1. Pemberi perawatan pada anggota keluarga yang menderita penyakit hipertensi . Dalam memberikan perawatan pada anggota keluarga yang menderita penyakit hipertensi, perawat memberikan kesempatan kepada keluarga untuk mengembangkan kemampuam mereka dalam melaksanakan perawatan dan memberikan demonstrasi kepada keluarga bagaimana merawat anggota keluarga yang menderita hipertensi.
  2. Koordinator pelayanan kesehatan kepada keluarga yang menderita penyakit hipertensi .
Perawat melakukan hubungan yang terus menerus dengan kelurga yang menderita penyakit hipertensi, sehingga dapat menilai, mengetahui masalah dan kebutuhan keluarga serta mencari cara penyelesaian masalah penyakit yang sedang dihadapi
  1. Fasilitator
Menjadikan pelayanan kesehatan dengan mudah untuk mengenal masalah pada keluarga yang menderita penyakit hipertensi dan mencari alternatif pemecahanya .
  1. Pendidik kesehatan
Perawat dapat berperan sebagai pendidik untuk merubah perilaku keluarga dari perilaku tidak sehat menjadi sehat  dalam mencegah penyakit hipertensi
  1. Penyuluh dan konsultasi
Perawat berperan sebagai petunjuk dalam asuhan keperawatan dasar terhadap keluarga yang anggotanya mederita penyakit hipertensi.

  1. Hipertensi
  1. Pengertian  
Hypertensi  adalah  meningkatnya tekanan darah  baik tekanan  sistolik  dan  diastolic  serta  merupakan  suatu  factor  terjadinya  kompilikasi penyakitt  kardiovaskuler   (Soekarsohardi,1999  :  151)  
Hipertensi  adalah  peningkatan   tekanan  darah  sistolik  dan  diastolic  diatas standar  dihubungkan dengan  usia  (Gede Yasmin,1993 :  191 ).
Dari  definisi – definisi  diatas dapat  disimpulkan  bahwa  :
Hipertensi  adalah  peningkatan  tekanan  darah  baik  sistolik maupun  diastolic  diatas  normal  sesuai   umur  dan  merupakan salah  satu  factor  resiko  terjadinya  kompilkasi  penyakit kardiovaskuler.      
  1. Etiologi
Hipertensi  dapat dikelompokan   dalam dua  kategori :
  1. Hipertensi  primer  artinya  belum  diketahui penyebabnya  yang jelas.
Berbagai  faktor  yang  turut  berperan sebagai  penyebab hipertensi  seperti  berrtambahnya  usia , factor  psikologis ,  dan keturunan.
Sekitar   90  %  hipertensi  tidak diketahui  penyebabnya .
  1. Hipertensi  sekunder  telah  diketahui  penyebabnya  seperti stenosis  arteri  renalis,  penyakit  parekim ginjal, Koartasio aorta. Hiperaldosteron, pheochromositoma dan pemakaian oral kontrasepsi.
Adapun  factor  pencetus  hipertensi  seperti, keturunan, jenis  kelamin, umur, kegemukan, lingkungan, pekerjaan, merokok, alcohol  dan  social  ekonomi (Susi  Purwati , 2000 : 25 )
  1. Patofisiologi.
Jantung adalah  sistim pompa yang berfungsi untuk memompakan darah  keseluruh  tubuh, tekanan teresebut bergantung pada factor cardiac output dan  tekanan  peririfer. Pada  keadaan  normal  untuk  memenuhi  kebutuhan  metabolisme jaringan tubuh yang meningkat diperlukan peningkatan  cardiac   output  dan  tekanan  perifer menurun  .
Konsumsi sodium (garam )  yang berlebihan  akan  mengakibatkan  meningkatnya volume cairan dan pre load  sehingga  meningkatkan  cardiac  aouput . Dalam sistim  Renin -  Angiotensien  - aldosteron  pada  patogenesis    hipertensi, , glandula  supra renal  juga  menjadi  factor  penyebab  oleh  karena  faktor  hormon
.Sistim  Renin  mengubah angiotensin menjadi  angiotensin  I  kemudian angitensin  I  menjad angiotensin  II  oleh  Angitensi  Convertion  Ensym (ACE        )
  Angiotensin  II  mempengaruhi  Control  Nervus  Sistim  dan  nervus  pereifer  yang  mengaktifkan  sistim  simpatik  dan  menyebabkan  retensi vaskuler  perifer  meningkat . Disamping  itu  angiotensin II  mempunyai  efek  langsung  terhadap  vaskuler  smoot  untuk  vasokonstruksi  renalis. Hal  tersebut  merangsang  adrenal  untuk  mengeluarkan  aldosteron  yang  akan meningkatkan  extra  Fluid  volume  melalui  retensi  air  dan  natrium. Hal  ini  semua  akan  meningkatkan  tekanan  darah  melalui  peningkatan  cardiac  output. (Jurnlistik international cardiovaskuler,1999 )
  1. Komplikasi yang mungkin  terjadi  akibat  hipertensi  seperti , penyakit  jntung  koroner, gagal  jantung ,gagal ginjal ,kerusakan  mata, dan kerusakan pembuluh darah otak ( Sri Rahayu, 2000 : 22,23 dan patologi penyakit jantung RSUD.dr Soetomo,1997).          
  2. Perawatan pada  penderita  hipertensi  adalah sebagai  berikut :
  1. Pengaturan diit
  2. Berolah raga
  3. Obat-obatan penurun takanan darah antara lain : ga secara teratur
  4. Menghilangkaan rasa  takut
  1. Diuretik  : Hidrochlortiasid,Furosemid dll.  
  2. Betabloker :Proparnolol, dll.
  3. Alfabloker : Prazosin  dll.
  4. Penghambat  ACE  : Kaptopril  dll.
  5. Antagonis Kalsium : Diltiasem  dll.(farmakologi FKUI,1995)
  1. Nutrisi
Dalam merencanakan menu makanan untuk penderita hipertensi ada beberapa factor yang perlu  diperhatikan yaitu  keadaan berat badan,  derajat hipertensi,aktifitas dan ada tidaknya komplikasi. Sebelum pemberian nutrisi pada penderita hipertensi ,diperlukan  pengetahuan tentang jumlah kandungan  natrium dalam bahan makanan. Makan biasa ( untuk orang sehat rata-rata mengandung 2800 – 6000 mg per hari ). Sebagian besar  natrium  berasal dari  garam dapur.  
Untuk mengatasi tekanan darah tinggi harus selalu memonitor kadaan tekanan darah serta cara pengaturan makanan sehari-hari. Secara garis besar ada 4 (empat) macam diit untuk menanggulangi atau minimal mempertahankan tekanan darah yaitu :
  1. Diet rendah garam
Diet  rendah garam pada hakekatnya merupakan diet dengan mengkonsumsi
Makanan tanpa garam.Garam dapur mempunyai  kandungan 40% Natrium.
Sumber sodium lainnya antara lain makanan yang mengandung soda kue, baking powder,  MSG (Mono Sodium Glutamat),Pengawet makanan atau natrium bensoat biasanya terdapat dalam saos,kecap,selai,jelli,makanan yang terbuat dari mentega.
Penderita tekanan darah tinggi yang sedang menjalankan diet pantang garam memperhatikan hal sebagai berikut :
  1. Jangan menggunakan garam dapur
  2. Hindari makanan awetan seperti kecap, margarie, mentega, keju, trasi, petis, biscuit, ikan asin, sardensis, sosis dan lain-lain.
  3. Hindari bahan makanan yang diolah dengan menggunakan bahan makanan tambahan atau penyedap rasa seperti saos.
  4. Hindari penggunaan beking soda atau obat-obatan yang mengandung sodium.
  5. Batasi minuman yang bersoda seperti cocacola, fanta, seperait
  1. Diet rendah kolesterol / lemak.
Didalam tubuh terdapat tiga bagian lemak yaitu kolesterol, trigliserida, dan pospolipid. Sekitar 25 – 50 % kolesterol berasal dari makanan dapat diarsorbsi oleh tubuh sisanya akan dibuang lewat faeces. Beberapa makanan yang mengandung kolestero tinggi yaitu daging, jeroan, keju keras, susu, kuning telur, ginjal, kepiting, hati dan kaviar. Tujuan diet rendah kolesterol adalah menurunkan kadar kolestero serta menurunkan berat badan bila gemuk. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengatur nutrisi pada hypertensi adalah :
  1. Hindari penggunaan minyak kelapa, lemak, margarine dan mentega.
  2. Batasi konsumsi daging, hati, limpa dan jenis jeroan.
  3. Gunakan susu full cream.
  4. Batasi konsumsi kuning telur, paling banyak tiga butir per minggu.
  5. Lebih sering mengkonsumsi tahu, tempe, dan jenis kacang-kacang lainnya.
  6. Batasi penggunaan gula dan makanan yang manis-manis seperti sirup, dodol.
  7. Lebih banyak mengkonsumsi sayur-sayuran dan buah – buahan.
  1. Diet kalori bila kelebihan berat badan. Hypertensi tidak mengenal usia dan bentuk tubuh seseorang. Meski demikian orang yang kelebihan berat badan akan beresiko tinggi terkena hypertensi. Salah satu cara untuk menanggulanginya dengan melakukan diet rendah kalori, agar berat badannya menurun hingga normal. Dalam pengaturan nutrisi perlu diperhatikan hal berikut :
  1. Asupan kalori dikurangi sekitar 25 % dari kebutuhan energi atau 500 kalori untuk penurunan 0,5 kg berat badab per minggu.
  2. Menu makanan harus seimbang dan memenuhi kebutuhan zat gizi.
  3. Perlu dilakukan aktifitas olah raga ringan.
Contoh menu untuk penderita hypertensi :
1 piring nasi ( 100 gram ), 1 potong daging ( 50 gram ), 1 mangkok sup ( 130 gram ), 1 potong tempe ( 50 gram ), 1 potong pepaya ( 100 gram ), ( Sri Rahayu, 2000 ).
e. Dampak masalah.
  1. Terhadap individu.
  1. Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat.
Hypertensi merupakan penyakit yang tidak diketahui penyebabnya oleh penderita. Kurangnya pengetahuan klien terhadap penyakit hypertensi, sebagian besar timbul tanpa gejala yang khas.
  1. Pola nutrisi dan metabolisme.
Pada penderita hypertensi sering mengalami keluhan kepala pusing dan bila berlangsung lama disertai mual-mual dan muntah.
  1. Psikologi.
Penderita hypertensi biasanya iritabel, mudah marah dan tersinggung.
  1. Pola tidur dan istirahat
Pada klien hypertensi mengalami gangguan tidur sering terbangun karena sering sakit kepala dan tegang pada leher bagian belakang.
  1. Pola persepsi dan pengetahuan.
Pada klien hipertensi sering terjadi kebosanan akan prosedur pengobatan yang lama ,diet, olah raga, merokok, minuman beralkohol.
  1. Pada pola tata nilai dan kepercayaan
     Klien akan merasa cemas akan kesembuhan penyakitnya dan merasa tidak berdaya dengan keberadaan sekarang.
  1. Terhadap keluarga
  1. Merepotkan dalam  memberikan perawatan ,pengaturan diet, mengantar kontrol dan manambah beban biaya hidup yang terus –menerus.
  2. Produktifitas menurun. Apabila hipertensi mengena kepala keluarga yang berperan sebagai pencari nafkah untuk kebutuhan keluarga ,maka akan menghambat kegiatannya sehari-hari untuk kegiatan seperti semula.
  3. Psikologi .
Peran kepala akan diganti oleh anggoata keluarga yang lain.
  1. Terhadap masyarakat
Dengan adanya klien hipertensi dimasyarakat memungkinkan terjadi perubahan peran dalam masyarakat  Selain itu akan menimbulkan kecemasan terhadap masyarakat dan akan terjadi ancaman kehilangan salah satu anggotanya. .
  1. Pelayanan kesehatan
Mengamati prevalensi penyakit hipertensi yang semakin meningkat,maka akan terjadi beban pelayanan kesehatan di masa yang akan datang.
  1. Asuhan  Keperawatan
Proses keperawatan adalah metode ilmiah yang digunakan secara sistimatis untuk mengkaji dan menentukan masalah kesehatan dan keperawatan keluarga,melaksanakan  asuhan keperawatan ,serta implementasi keperawatan terhadap keluarga sesuai rencana yang telah direncanakan /dibuat serta mengevaluasi hasil asuhan keperawatan yang telah dilaksanakan .
  1. Pengkajian
  1. Penjajakan pertama
                      Tujuan  penjajakan tahap pertama adalah  untuk mengetahui masalah yang dihadapi oleh keluarga.
  1. Pengumpulan data
   Merupakan informasi  yang diperlukan untuk mengukur masalah kesehatan ,status kesehatan, kesanggupan keluarga dalam memberikan perawatan pada anggota keluarga .  
  1. Struktur dan sifat anggota keluarga
  1. Anggota –anggota keluarga dan hubungan dengan kepala keluarga.
  2. Data demografi  : umur,jenis kelamin, kedudukan dalam keluarga.
  3. Tempat tinggal masing-masing anggota keluarga,
  4. Macam struktur anggota keluarga apakah matrikat,patrikat berkumpul atau menyebar.
  5. Anggota keluarga yang menonjol dalam pengambilan keputusan.
  6. Hubungan dengan anggota keluarga termasuk dalam perselisihan yang nyata  ataupun tidak nyata.
  7. Kegiatan dalam hidup sehari-hari,kebiasaan tidur,kebiasaan makan dan penggunaan waktu senggang
  1. Faktor sosial budaya dan ekonomi
  1. Pekerjaan
  2. Penghasilan
  3. Kesanggupan untuk memenuhi kebutuhan primer
  4. Jam kerja ayah dan ibu
  5. Siapa yng menentukan keuangan  dan penggunaannya
  1. Faktor lingkungan
  1. Perumahan
  1. Luas rumah
  2. Pengaturan dalam rumah
  3. Persediaan sumber air
  4. Adanya bahan kecelakaan
  5. Pembuangan sampah
  1. Macam lingkungan / daerah rumah
  2. Fasilitas social dan lingkungan
  3. Fasilitas transportasi dan kesehatan
  1. Riwayat kesehatan
  1. Riwayat kesehatan dari tiap anggota keluarga
  2. Upaya pencegahan terhadap penyakit
  3. Sumber  pelayanan kesehatan
  4. Perasepsi keluarga terhadap peran pelayanan dari petugas kesehatan.
  5. Pengalaman yang lalu dari petugas kesehatan.
  1. Cara pengumpulan data
  1. Oservasi langsung  : dapat mengetahui keadaan  secara langsung.
  1. Keadaan fisik dari tiap anggota keluarga.
  2. Komunikasi dari tiap anggota keluarga
  3. Peran dari tiap anggota keluarga
  4. Keadaan rumah dan lingkungan
  1. Wawancara
Dapat mengetahui hal-hal :
  1. Aspek fisik
  2. Aspek mental
  3. Sosial budaya
  4. Ekonomi
  5. Kebiasaan
  6. Lingkungan
  1. Studi dokumentasi antara lain
  1. Perkembangan kesehatan anak
  2. Kartu keluarga
  3. Catatan kesehatan lainnya
  1. Dilakukan  terhadap angota keluarga yang mengalami masalah kesehatan dan keperawatan antara lain :
  1. Tanda-tanda penyakit
  2. Kelainan organ tubuh
  1. Analisa  data
Analisa data bertujuan untuk mengetahui masalah kesehatan yang dialami oleh keluarga. Dalam menganalisis data dapat menggunakan Typologi  masalah dalam family healt care.
Permasalahan dapat dikategorikan sebagai berikut :
  1. Ancaman kesehatan adalah : keadaan yang dapat memungkinkan  terjadinya penyakit,kecelakaan atau kegagalan dalam mencapai potensi kesehatan.
Contoh :
  1. Riwayat penyakit keturunan dari keluarga seperti  hipertensi
  2. Masalah nutrisi terutama dalam pengaturan diet
  1. Kurang atau tidak sehat adalah : kegagalan dalam memantapkan kesehatan.
Contoh:
  1. Adakah didalam keluarga yang menderita penyakit hipertensi
  2. Siapakah  yang menderita penyakit hipertensi
  1. Krisis adalah : saat- saat keadaan menuntut terlampau banyak dari indivdu atau keluarga dalam hal penyesuaian maupun sumber daya mereka.
Contoh :
Adakah anggota keluarga yang meninggal akibat hipertensi.
  1. Penentuan prioritas masalah
Didalam menentukan prioritas masalah kesehatan keluarga menggunakan sistim scoring berdasarkan tipologi masalah dengan pedoman sebagai berikut

K riteria

Bobot
1. Sifat masalah
   Skala : ancaman kesehatan
               Tidak/kurang sehat
               Krisis

2
3
1
1
2. Kemungikan masalah dapat diubah
   Skala : Dengan mudah
               Hanya sebagian
               Tidak dapat

2
1
0
2
3. Potensia masalah untuk dicegah
   Skala  : Tinggi
                Cukup
                Rendah

3
2
1
1
4.  Menonjolnya masalah
   Skala  : Masalah berat harus ditangani
                Ada masalah tapi tidak perlu segera ditangani
                Masalah tidak dirasakan

2

1
0
1

Skoring   :
1.Tentukan  skor untuk tiap kriteria
2.Skor  dibagi dengan angka tertinggi dan kalikanlah dengan bobot
                             
                                 Skor                            X     bobot
                      Angka  tertinggi

3. Jumlahkanlah skor  untuk semua criteria ,skor tertinggi  5  sama dengan  seluruh bobot
  1. Penjajakan pada tahap kedua
Tahap ini menggambarkan sampai dimana keluarga dapat melaksanakan tugas-tugas kesehatan yang berhubungan dengan ancaman  kesehatan,kurang /tidak sehat dan krisis yamg dialami oleh keluarga yang didapat pada penjajakan tahap pertama.
Pada tahap kedua menggambarkan ketidak mampuan keluarga untuk melaklasanakan tugas-tugas kesehatan serta cara pemecahan masalah yang dihadapi .
 Karena ketidakmampuan keluarga dalam melaksanakan tugas-tugas kesehatan dan keperawatan,maka dapat dirumuskan diagnosa keperawatan secara umum pada keluarga yang menderita penyakit hipertensi  antara lain :
  1. Ketidak sanggupan keluarga mengenal masalah penyakit hipertensi berhubungan dengan ketidaktahuan tentang  gejala hipertensi
  2. Ketidaksanggupan keluarga dalam mengambil keputusan dalam melaksanakan tindakan yang tepat untuk segera berobat kesarana kesehatan bila terkena hipertensi berhubungan dengan kurang pengetahuan klien/keluarga tentang manfaat berobat kesarana kesehatan
  3. Ketidak mampuan merawat anggota keluarga yang sakit berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit hipertensi ,cara perawatan dan sifat penykit hipertensi .
  4. Keitdaksanggupan memelihara lingkungan rumah yang dapat mempengaruhi kesehatan keluarga berhubungan dengan tadak dapat melihat keuntungan dan manfaat pemeliharaan lingkungan serta kitidaktahuan tentang usaha pencegahan penyakit hipertensi.
  5. Ketidakmampuan menggunakan sumber yang ada di masyarakat guna memelihara kesehatan berhubungan dengan kurangnya pengetahuan klien dan keluarga tersedianya fasilitas kesehatan seperti JPS.,dana sehat dan tidak memahami manfaatnya.
Adapun diagnosa keperawatan yang berhubungan pengaturan diet pada klien hipertensi adalah :
  1. Ketidaktahuan mengenal masalah nutrisi sebagai salah satu penyebab terjadinya hipertensi adalah berhubungan dengan kurangnya pengetahuan cara pengaturaan diet yang benar.
  2. Ketidak sanggupan keluarga memilih tindakan yang tepat dalam pengaturan diet bagi penderita hipertensi berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang cara pengaturan diet yang benar.
  3. Ketidakmampuan untuk penyediaan diet khusus bagi klien hipertensi berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga tentang cara pengolahan makanan dalam jumlah yang tepat.
  4. Ketidakmampuan meenyediakan makanan rendah garam bagi penderita hipertensi berhubungan dengan kurangnya pengetahuan dan kebiasaan sehari-hari yang mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung garam
  5. Ketidaktahuan menggunakan manfaat tanaman obat keluarga berhubungan dengan kurangnya pengetahan tentang manfaat tanaman obat tersebut.
  1. Perencanaan
Rencana keperawatan keluarga adalah sekumpulan tindakan keperawatan yang ditentukan oleh perawat untuk dilaksanakan dalam memecahkan masalah kesehatan dan keperawatan yang telah diidentifikasi (Nasrul Effendi,1998 : 54 )
Rencana tindakan dari masing –masing diagnosa keperawatan khusus diet pada klien hipertensi adalah :
  1. Ketidakmampuan mengenal masalah nutrisi sebagai salah satu penyebab terjadinya hipertensi berhubungan dengan  kurangnya pengetahuan tentang cara pengaturan diet yang benar.
  1. Tujuan
Keluarga mampu mengenal cara pengaturan diet bagi anggota keluarga yang menderita penyakit hipertensi.
  1. Kriteria hasil
a).Keluarga mampu menyebutkan secara sederhana batas pengaturan diet bagi anggota kelurga yng menderita hipertensi.
b) Keluarga dapat memahami danmampu mengambil tindakan sesuai anjuran.
  1. Rencana tindakan
  1. Beri penjelasan kepada keluarga cara pengaturan diet yang benar bagi penderita hipertensi.
  2. Beri penjelasan kepada klien dan keluarga ,bagaiman caranya menyediakan makan-makanan rendah garam bagi penderita hipertensi .
  1. Rasional
a)Dengan diberikan penjelasan diharapkan keluarga menimbulkan peresepsi yang negatip sehingga dapat dijadikan motivasi untuk mengenal masalah khususnya nutrisi untuk klieh hiperetensi
b)Dengan diberikan penjelasan keluarga mampu menyajikan makanan yang rendah garam.
b.Ketidak mampuan dalam mengambil keputusan untuk mengatur diet terhadap anggota keluarga yang menderita hipertensi berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga tentang manfaat dari pengaturan diet
  1. Tujuan
Keluarga dapat memahami tentang manfaat pengaturan diet untuk klien hipertensi
2) Kriteria hasil
a) Keluarga mampu menjelaskan tentang manfaat pengaturan diet bagi klien hiperetensi
  1. Keluarga dapat menyediakan makanan khusus untuk klien hipertensi
3) Rencana tindakan
  1. Beri penjelasan kepada keluarga tentang manfaat pengaturan diet untuk klien hipertensi.
  2. Beri penjelasan kepada keluarga jenis untuk klien hipertensi.
4) Rasionalisasi
  1. Dengan diberi penjelasan diharapkan keluarga mampu melaksanakan cara pengaturan diet untuk klien hipertensi
  2. Keluarga diharapkan mengetahui jenis makanan untuk penderita hipertensi.
c.Ketidakmampuan keluarga untuk menyediakan diet khusus bagi penderita hipertensi berhubungan kurangnya pengetahuan tentang cara pengolahan makanan dalam jumlah yang benar .
  1. Tujuan
Keluarga mampu menyediakan diet khusus untuk penderita hipertensi.
  1. Kriteria hasil
  1. Kilen dan keluarga mampu menyediakan diet khusus untuk penderita hipertensi.
  2. Keluarga mampu menyajikan makanan dalam jumlah yang tepat bagi klien hipertensi.
3)  Rencana tindakan
  1. Beriakan penjelasan kepada klien dan keluarga cara pengolahan makanan untuki klien hipertensi.
  2. Beri penjelasan kepada klien dan keluarga jumlah makanan yang dikonsumsi oleh klien hipertensi.
  3. Beri contoh sederhana kepada klien dan keluarga untuk memnbuat makanan dengan jumlah yang tepat.
4)  Rasionalisasi.
  1. Dengan diberikan penjelasan diharapkanklien dan keluarga dapat cara pengolahan makanan untuk klien hipertensi.
  2. Diharapkan klien dapat mengkonsumsi makanan sesuai yang dianjurkan.
  3. Dengan diberikan contoh sederhana caara membuat makanan dalam jumlah yang tepat kilen dan keluarga mampu menjalankan /melaksanakaannya sendiri.
  1. Ketidakmampuan menyediakan makanan rendah garam bagi penderita hipertensi berhubungan dengan kurang pengetahuan dan kebiasaan sehari-hari yang mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung garam.
1)Tujuan
     Seluruh anggota keluarga membiasakan diri setiap hari mengkonsumsi makanan yang rendah garam.
  1. Kriteria hasil
  1. Klien dan keluarga dapat menjelaskan manfaat makanan yang rendah garam
  2. Klien dan keluarga dapat menjelaskan jenis makanan yang banyak mengandung garam.
  3. Klien dan keluarga mau berubah kebiasaan dari mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung garam.
  1. Rencana tindakan.
  1. Beri penjelasan kepada klien dan keluarga tentang pengaruh garan terhadap klien hipertensi.
  2. Beri penjelasan kepada klien dan keluarga jenis makana yang banyak mengandung garam.
  3. Beri motivasi kepada klien dan keluarga bahwamereka mampu untuk merubah kebiasaan yang kurang baik tersebut yang didasari padea niat dan keinginan untuk merubah.
  1. Rasional
  1. Diharapkan klien dan keluarga memahami dan mengerti tentang pengaruh garam terhadap klien hipertensi
  2. Diharapkan klien dan keluarga dapat menghindari makanan yang banyak mengandung garam.
  3. Dengan diberi motivasi diharapkan klien dan kelarga mau merubah sikapnya dari yang tidak sehat menjadi sehat
  1. Ketidakmampuan menggunakan sumber pemanfaatan tanaman obat  keluarga berhubungan dengan kurang pengetahuan  guna dari tanaman obat keluarga.
  1. Tujuan
Diharapkan klien dan keluarga mampu memanfaatkan sumber tanaman obat keluarga.
  1. Kriteria hasil
Klien dan keluarga dapat menyebutkan tanaman obat yang dapat membantu untuk pengobatan hipertensi
  1. Rencana tindakan
  1. Beri penjelasan kepada klien dan keluarga manfaat Toga.
  2. Beri penjelasan kepada klien keluarga macam dan jenis tumbuhan /tanaman yang dapat membantu menurunkan tekanan darah  
  3. Anjurkan kepada kepada klien dan keluarga agar berusaha memiliki tanaman obat keluarga .
4) Rasional
  1. Agar klien dan keluarga dapat memahami manfaat Toga.
  2. Klien dan keluarga dapat mengetahui jenis tanaman yang dapat menurunkan tekanan darah.
  3. Dengan memiliki Toga sendiri klien dapat mengkonsumsi tanaman obat tersebut kapan saja diperlukan.  
  1. Pelaksanaan
Pelaksanaan asuhan keperawatan pada anggota keluarga yang menderita hipertensi sesuai rencana yang telah disusun.
Pada peleksanaan asuhan keperawatan  keluarga dapat dilaksanakan antara lain  :
  1. Deteksi dini kasus baru.
  2. Kerja sama lintas program dan lontas sektoral
  3. Melakukan rujukan
  4. Bimbingan dan penyuluhan.   ( Pedoman Kerja Puskesmas, 1992 :6)
  1. Evaluasi
Penilaian adalah tahap yang menentukan apakah tujuan tercapai (out put ) dan penilaian selalu berkaitan dengan tujuan.Evaluasi juga dapat meliputi penilaian input dan porses.
Evaluasi sebagai suatu proses yang dipusatkan pada beberapa dimensi ;
  1. Bila evaluasi dipusatkan pada tujuan kita memperhatikan hasil dari tindakan keperawatan.
  2. Bila evaluasi digunakan pada ketepatgunaan (effisiensi ),maka dimensinya dapat dikaitkaan dengan biaya.,waktu,tenaga dan bahan.
  3. Kecocokan (Apprioriatenes ) dari tindakan keperawatan adalah kesanggupan dari tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah.
  4. Kecukupan (Adecuacy) dari tindakan keperawatan  (Family Healt Care , 1989 : 97 )  

DAFTAR  PUSTAKA

Proses keperawatan pada klien dengan gangguan sistim kardiovasculer. Editor Ni Luh Gede Yasmin SKp. Penerbit buku kedokteran EGC I  1993 Jakarta

Patologi hipertensi Lab. SMF. Penyakit jantung RSUD.Dr.Soetomo 1997 Surbaya

Jurnalistik Guedilines for the  management hipertention 1997

Jurnalistik International of Cardiovasculer  Medicine,Surgery and patology  1997

Farmakologi dan terapi .Edisi IV FKUI 1995  Jakarta

Nutrisi untuk klien hipertensi  Ir.Sri Rahayu dkk.2000    Jakarta

Keperawatan Komunitas dan kesehatan rumah ,pengkajian intervensi dan penyuluhan .Pengarang Marcia Stanhope dan Ruth N. Knollmueler.Penerbit buku kedokteran EGC Jakarta 1997  

Dasar Keperawatan Kesehatan Komunitas edisi II Nasrul Effendi  editor Yasmin Asih penerbit buku kedokteran EGC Jakarta 1998  

Masalah  hipertensi  Prof.Dr.Moerdono penerbit  Bhrata Karya Aksara Jakarta. 1994
16